Sabtu, 06 April 2013

makalahku kemukjizatan al-quran


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril dengan cara mutawatir (berangsur-angsur) dan bernilai ibadah bagi yang membacanya. Al-Qur`an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Muhammad sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya sangatlah fenomenal. Lantaran di dalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit sekaligus luar biasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya sebagai ajaran keagamaan saja, melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya.
Diantara nilai-nilai tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiah dan muatan hukum yang terkandung didalamnya. Saking pelik, unik, rumit dan keluar biasaanya tak pelak ia menjadi objek kajian dari berbagai macam sudutnya, yang darinya melahirkan ketakkjuban bagi yang beriman dan cercaan bagi yang ingkar.
Namun demikian, seiring dengan waktu dan kemajuan intelekstualitas manusia yang diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, sedikit demi sedikit nilai-nilai tersebut dapat terkuak dan berpengaruh terhadap kesadaran manusia akan keterbatasan dirinya, sebaliknya mengokohkan posisi Al-Qur`an sebagai kalam Tuhan yang Qudus yang berfungsi sebagai petunjuk dan bukti terhadap kebenaran risalah yang dibawa Muhammad. Serentetan nilai Al-Qur`an yang unik, pelik, rumit sekaligus luar biasa hingga dapat menundukkan manusia dengan segala potensinya itulah yang lazimnya disebut dengan mu’jizat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Mukjizat mukjizat?
2. Apa Pengertian Al-Qur’an?
3. Pengertian Kemukjizatan Al-Quran?
4. Apa ayat-ayat tantangan Al-Quran terhadap orang yang membuat Al-Quran?
5. Apa Macam-macam Mukjizat?
6. Bagaimana faham Al-shirfah tentang Mukjizat dan Penolakannya?
7. Apa saja Faktor-faktor Kegagalan Menandingi Al-Qur’an?
8. Bagaimana Segi-segi Kemukjizatan Al-Qur’an?

C. Tujuan Penulisan
 1. Untuk memenuhi tugas Ulumul Qur’an
 2. Untuk mengetahui seluk-beluk Mu’jizat Al-Quran dan menambah wasan pengetahuan,  khususnya dalam bidang Kemukjizatan Al-Qur’an.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Mukjizat
Mukjizat adalah suatu peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan (khariqul adat). Mukjizat hanya diberikan kepeda Nabi sebagai bukti kenabiannya. Menurut ahli para ilmuan kalam, kalamullah adalah ucapan Allah SWT. Yang sudah ada sejak zaman azali. Sementara menurut para ahli tafsir, kalamullah adalah firman Allah SWT, yang diturunkan kepada rosul-rosulnya untuk sisampaikan kepada seluruh umat.[1]
Kata mukjizat dalam kamus besar bahasa Indonesia sebagai”kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan manusia”.[2]”Pengertian ini tentu  tidak akan sama dengan pengertian yang dikemukakan oleh agama islam yaitu dilihat dari tinjauan bahasa arab” kata mukjizat pada hakikatnya terbentuk dari kata bahasa arab a’jaza (melemahkan atau menjadikan tidak mampu”.Lalu melalui proses pentafsiran kata tersebut menjadi mu’jiz yang artinya orang yang melemahkan
أَعْجَزَتُ أَنْ أَكُوْنَ مِثْلَ هَذَاالْغُرَاب فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِيْ

“…Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini” (QS. Al Maidah (5): 31)
Kemudian bila kemampuannya untuk melemahkan pihak lain  amat menonjol sehingga mampu  membungkamkan  lawan, maka ia dinamai mu’jizatun, tambahan ta’ marbutoh pada akhir kata ,mengandung makna mubalaghoh (superlatif).[3]Jadi bisa di simpulkan bahwa mukjizat adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada seseorang yang mana peristiwa itu membuat orang terbungkam ketika  melihat peristiwa tersebut dan kejadian tersebut tidak bisa dinalar oleh rasio.
Pakar ulama agama islam mendefinisikan Al- Qur’an antara lain, sebagai sesuatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.[4] Oleh karna itu mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepada nabi-nabinya tidak akan sama.Jadi bisa di ambil kesimpulan bahwa setiap nabi pasti memiliki mukjizat sendiri-sendiri dan mukjizat tersebut merupakan senjata untuk melakuklan penyiaran agama islam.Setelah mamahami tentang pengertian mukjizat dari berbagai aspek , tentu kita perlu mengetahui bentuk-bentuk mukjizat secara histories, akan tetapi dengan begitu banyaknya bentuk-bentuk mukjizat rasanya tidak akan cukup untuk dibahas semunya, oleh karna itu, untuk mengetahui bentuk-bentuk mukjizat kita ambil secara garis besarnya.
B. Pengertian Al-Quran
Al-Quran sabagai kitab suci terakhir yang dari allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad  lalu disampaikan kepada umat manusia yang dijadikan pedoman hidup dan rujukan dari cabang-cabang ilmu.Al-Quran menurut kemasyhurannya berasal dari kata”qoroa” yang berarti bacaan.[5] pendapat ini dikuatkan oleh surat Al-Qiyyamah yaitu”Sesungguhnya kami yang mengumpulkannya (di dalam) dan membuatmu pandai mambacanya lalu ikutilah bacaanya itu”        
ada juga yang mengatakan bahwasannya pemberian nama al-quran merupakan nama yang langsung diberikan oleh allah[6].Pendapat in mengambil rujukan surat al-baqorah ayat 185 yaitu”bulan ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)
Menurut Jalaludin Asy syuyuthi yang dikutip oleh Drs.Moh Chadziq Charisma memberikan pengrtian bahwasannya alquran adalah kalamullah atau firman allah , diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk melemahkan orang-orang yang menentangnya, sekalipun dengan surat yang terpendek , membaca termasuk ibadah.[7]
Dari sebagian pandapat-pendapat tersebut, bisa diambil pemahaman , bahwasannya diturunkan kepada nabi secara berangsur-angsur lalu disampaikan kepada manusia, yamg berfungsi untuk menjawab sebuah permasalahan-permasalahan tentang agama yang dilontarkan oleh kaum-kaum kafir, selain hal tersebut al quran juga digunakan sebagai sumber hokum yang sifatnya permanen dan sudah tidak bisa diganggu gugat tentang hokum-hukum yang telah ditentukan oleh alquran(hukum allah).sementara itu nabi berperan sebagai mediator untuk memberikan penjelasan tantang alquran .
C.Pengertian Kemukjizatan Al-Qur’an
Berdsarkan sifatnya, mukjizat (Al-Qur`an) yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW. Sangatlah berbeda dengan mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu. Jika para nabi sebelumnya bersifat Hissiy-Matrial sedangkan Al-Qur`an bersifat maknawy / immateri. Perbedaan tersebut bertolak pada dua hal mendasar yaitu ;
pertama, para nabi sebelum Muhammad SAW Ditugaskan pada masyarakat dan masa tertentu. Oleh karenanya mukjizat tersebut hanya sementara. Sedangkan Al-Qur`an tidak terbatas pada masyrakat dan masa tertentu sehingga berlaku sepanjang masa.
Kedua, secara historis-sosiologis dalam pemikirannya manusia mengalami perkembangan. Auguste Comte(1798-1857) sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab- ia berpendapat bahwa pikiran manusia dalam perkembangannya mengalami tiga fase. Pertama Fase keagamaan, dikarenakan keterbatasan pengetahuan manusia ia mengembalikan penafsiran semua gejala yang terjadi pada kekuatan Tuhan atau dewa yang diciptakan dari benaknya. Kedua fase metafisika, yaitu manusia berusaha menafsirkan gejala yang ada dengan mengembalikan pada sumber dasar atau awal kejadiannya. Ketiga fase ilmiah, dimana manusia dalam menafsirkan gejala atau fenomena berdasarkan pengamatan secara teliti dan eksperimen sehingga didapatkan hukum-hukum yang mengatur fenomena tersebut.[8] Posisi Al-Qur`an sebagai mukjizat adalah pada fase ketiga dimana ditengarahi bahwa potensi pikir-rasa manusia sudah luar biasa sehingga bersifat universal dan eternal.

D. Ayat-ayat tantangan Al-Quran terhadap orang yang membuat Al-Quran
       1. Mu’jizat Dalam Tantangan Ayat Al-Qur’an[9]
     Sub bab ini adalah untuk menjawab pertanyaan “apakah semua kandungan Alquran dimaksudkan dalam tantangan untuk membuat tandingan Alquran ketika turunnya?” tentu saja tidak karena bangsa Arab kala itu tidaklah mengenal kandungan-kandungan Alquran, seperti hukum, ilmu dan lain sebagainya.
Mu’jizat bahasa adalah hal yang paling utama dalam tantangan ini,karena unsur itulah yang menjadi perhatian kaum Quraysy saat itu. Keindahan eksternal maupun internalnya merupakan hal yang dipuji sekaligus diingkari oleh kaum Quraysy.
Uslubnya, tasybih, majaz, kinayah, fasohah, balaghah, ma’ani, qashr, washl, fashl, ijaz, irama (musiqul uslub, musiqul wazan dan musiqul fawasil), saja’, tajanus, husnut taqsim, jinas, tarshi’, tasythir, raddul I’jaz alas shudur, tauriyah,tibaq, muqabalah dan lain sebagainya adalah unsur-unsur yang menjadi keindahan bahasa Alquran dalam pandangan ilmu Balaghah. Seperti ayat :
يوم تقوم الساعة يقسم المجةمون ما لبسوا غير ساعة # فأما اليتيم فلا نقهر و أما السائل فلا تنهر # إن الأبرار لفى نعيم و إن الفجار لفى جحيم # و تخشى الناس و الله أحق أن تخشاه # و هو الذى يتوفاكم بالليل و يعلم ما جرحتم بالنهار # و تحسبهم أيقاظا و هم رقودا # لكيلا تأسوا على ما فاتاكم و لا تفرحوا على ما أتاكم

Menurut sebagian besar ulama keummiyan rasul juga terkandung didalamnya.[10]

2. Tantangan Allah Untuk Membuat Tandingan Al-Qur’an.[11]
Paling tidak ada empat ayat yang merupakan tantangan bagi mereka yang tidak mempercayai kebenaran Alquran saat itu, keempat ayat itu adalah :
و إنكنتم فى ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله و ادعوا شهداءكم من دون الله إتكنتم صادقين ( البقرة : 24 )
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal dengan Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.( al-Baqarah: 24 )
أم يقولون افتراه قل فأتوا بسورة مثله و ادعوا من استطعتم من دون الله إن كنتم صادقين ( يونس : 37 )
Atau (patutkah) mereka mengatakan “ Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah : “(kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. ( Yunus : 38)
ام يقولون افتراه قل فأتوا بعسر سور مثله مفتريات و ادعوا من استطعتم من دون الله إن كنتم صادقين ( هود : 13 )
Bahkan mereka mengatakan :” Muhammad telah membuat-buat Alquran itu”, katakanlah:”( kalau demikian ), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.( Hud : 13)
فليأتوا بحديث مثله إن كانوا صادقين ( الطور : 34 )
Maka hendalah mereka mendatangkan kalimat kalimat yang semisal dengan Alquran itu jika mereka orang-orang yang benar (At-at-Thur : 34)
Tapi ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ayat yang merupakan tantangan untuk membuat tandingan Al—Qur’an hanya ada tiga ayat, dalam arti tiga tingkatan. Seperti Manna qaththan yang mengatakan memberikan tiga tingaktan tantangan dengan empat ayat, yang pertama adalah Al-Isro ayat 88 yang berbunyi:
قل لئن اجتمعت الإنس و الجن على أن يأتوا بمثل هذا القرأن لا يأتون بمثله و لو كان بعضهم لبعض ظهيرا
Artinya: katakanlah:”sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka menjadi pembantu dengan yang lainnya”
Diteruskan dengan membuat sepuluh surat saja pada surat Hud ayat 13, yang kalau itu juga mereka tidak mampu maka diteruskan untuk membuat satu surat saja yaitu pada surat Yunus ayat 38 yang kemudian diulangi pada surat al-Baqarah ayat 24.

E. Macam-macam Mukjizat
Secara garis besar mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat material, indrawi, lagi tidak kekal dan mukjizat imaterial logis lagi dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat-mukjizat nabi dahulu merupakan jenis mukjizat yang pertama, sementara mukjizat jenis kedua adalah mukjizat dari Rasulullah saw yaitu Al-Quran.[12] Mukjizat ini mempunyai sifat yang  fleksibel dan selalu terjaga kemurniannya sepanjang masa, dikarnakan mukjizat Al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun.[13]Perbedaan ini disebabkan oleh dua hal pokok: [14]
1.      Para Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, ditugaskan untuk masyarakat dan masa tertentu. Karena itu, mukjizat mereka hanya berlaku untuk masa dan masyarakat tersebut, tidak untuk sesudah mereka. Ini berbeda dengan mukjizat Nabi Muhammad  yang diutus seluruh umat manusia sampai akhir zaman sehingga bukti ajaranya harus selalu ada dimana dan kapanpun berada.
2.      Manusia mengalami perkembangan dalam pemikiranya. Umat para Nabi khususnya sebelum Nabi Muhammad membutuhkan bukti kebenaran yang sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Bukti tersebut harus demikian jelas dan langsung terjangkau oleh indra mereka. Akan tetapi, setelah manusia  mulai menanjak ke tahap kedewasaan berpikir, bukti yang bersifat indrawi tidak dibutuhkan lagi.Untuk membahas lebih lanjut tantang kemukjizatan AlQuran tentu kita perlu memahami betul tentang Al-Quran dari segi pengartian, cara nabi manerimanya, cara pemeliharaannya dan lain-lain.
F. Faham Al-shirfah tentang Mukjizat dan Penolakannya[15]
Sebagai mana keterangan yang saya ambil dari bukunya M.Quraish shihab  mengatakan bahwa paham Ash-syarifah terambil dari akar sharafa yang berarti mamalingkan manusia dari upaya membuat semacam al-Quran, sehingga seandainya tidak dipalingkan, maka manusia akan mampu. Dengan kata lain, kemukjizatan al-Quran lahir dari factor eksternal, bukan dari al Quran itu sendiri. Para paham ini berbeda jawaban dalam menanggapi permasalah tentang factor eksternal di dalam al-Quran  yaitu.
Pertama bahwa semangat mereka untuk menantang dilemahkan oleh Allah. sebagai mana ilustrasi seandainya seseorang menantang anda, kemudian ada pihak ketiga berkomentar,” mengapa harus melawannya. Jika anda menang, maka itu wajar karena yang anda lawan anak kecil; dan kalau kalah, anda akan malu.”demikianlah makna semangat mereka dilemahkan Allah.
Kedua, manyatakan bahwa cara Allah memalingkan adalah dengan mencabut pengetahuan dan rasa bahasa yang mereka miliki dan yang diperlukan guna lahirnya susunan kalimat serupa al-Quran. Hal ini memberikan pemahaman seolah-olah tidak dalam keadaan fair.
Menanggapi permasalahan tersebut M.Quraish Shihab mengemukakan pendapatnya yaitu andaikan demikian apa dasar yang digunakan untuk mengatakan bahwa ada factor ekstern untuk melemahkann semangat mereka ? disisi lain apa dasar pendapat ini ? sejarah tidak menerangkan hal tersebut. Pada hal sejarah menyebutkan bahwa mereka telah sekuat tenaga untuk menghalangi laju ajaran al-quran dengan menggunakan segala cara yang mereka mampu lakukan, namun mereka tak kuasa untuk menandingi al-Quran. Demikianlah, terlihat kerapuhan pendapat paham yang menduga bahwa kemukjizatan al-quran bukan pada keistimewaan yang dimilikinya, tetapi lahir dari factor eksternal.  
G. Faktor-Faktor  Yang Menyebabkan Kegagalan dan Ketidakmampuan Bangsa Arab dalam Menandingi  al-Quran[16]
1.      Ketika menyusun syi’ir-syi’ir atau teks lisan lainnya, bangsa arab hanya mampu mensifati benda-benda yang bisa dilihat, seperti kuda, unta, perempuan, dll. Namun al-Quran, selain mensifati benda-benda yang bisa dilihat, tapi juga mampu memaparkan hal-hal ghaib, termasuk sejarah-sejarah masa lalu dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
2.      Bagaimanapun hebatnya para pujangga dan orator Arab dalam menyusun kata-kata dan merangkai kalimat, mereka tidak mampu menyusun kata dan rangkaian kalimat yang semuanya fasih dan baligh. Sedangkan semua susunan kata dan rangkaian kalimta al-Quran fasih dan baligh, sehingga tidak seorang pun mampu menandinginya.
3.      Ketika para sastrawan Arab berulang-ulang memberikan sifat tentang sesuatu benda atau peristiwa yang terjadi dengan kalimat berbeda-beda, maka kalimat yang kedua berbeda maksudnya dengan kalimat yang pertama. Tetapi al-Quran tidaklah demikian, sekalipun kalimat yang satu diulang-ulang dengan menggunakan kalimat yang lain, namun ayat-ayat al-Quran tidak berubah dari tujuan yang semula, bahkan akan menambah kefasihannya.
4.      Para sastrawan Arab  yang paling tersohor sekalipun, hanya dapat menyusun syi’ir yang fasih dan baligh hanya dalam satu bidang saja, sedang dalam bidang lainnya tidak. Tetapi al-Quran semua susunan kalimat dan ayat –ayatnya fasih dan baligh.
5.      Kandungan syi’ir –syi’ir para pujangga dan sastrawan Arab banyak berisi kebohongan dan kepalsuan, namun semua kandungan al-Quran sangat bersih dari kedustaan dan kepalsuan.
H. Segi-segi Kemukjizatan Al-Qur’an
Syeikh Muhammad Ali al-Shabuniy dalam tulisan Usman menyebutkan segi-segi kemukjizatan al-Quran, yaitu:
  1. Keindahan sastranya yang sama sekali berbeda dengan keindahan sastra yang dimiliki oleh orang-orang Arab
  2. Gaya bahasanya yang unik yang sama sekali berbeda dengan semua gaya bahasa yang dimiliki oleh bangsa  Arab
  3. Kefasihan bahasanya yang tidak mungkin dapat ditandingi dan dilakukan oleh semua makhluk termasuk jenis manusia
  4. Kesempurnaan syariat yang dibawanya yang mengungguli semua syariat dan aturan-aturan lainnya
  5. Menampilkan berita-berita yang bersifat eskatologis yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh otak manusia kecuali melalui pemberitaan wahyu al-Quran itu sendiri
  6. Tidak adanya pertentangan antara konsep-konsep yang dibawakannya dengan kenyataan kebenaran hasil penemuan dan penyelidikan ilmu pengetahuan
  7. Terpenuhinya setiap janji dan ancaman yang diberitakan al-Quran
  8. Ilmu pengetahuan yang dibawanya mencakup ilmu pengetahuan syariat  dan ilmu pengetahaun alam (tentang jagat raya).
  9. Dapat memenuhi kebutuhan manusia
  10. Dapat memberikan pengaruh yang mendalam dan besar pada hati para pengikut dan musuh-musuhnya
  11. Susunan kalimat dan gaya bahasanya terpelihara dari paradoksi dan kerancuan.[17]
Al-Mawardi dalam tulisan Hasbi ash-Shiddiqie menerangkan dua puluh hal yang menunjukan kemukjizatan al-Quran.[18]
  1. Kefashahan al-Quran dan cara penjelasannya
  2. Keringkasan lapad al-Quran, tapi sempurna maknanya
  3. Nazham uslub-nya yang unik. Ia tidak termasuk ke dalam kalam yang ber-nadzam, tidak termasuk ke dalam syi’ar atau rajaz, tidak bersajak dan bukan pula bersifat khatbah.
  4. Banyak makna-maknanya yang tidak dapat dikumpulkan oleh oleh pembicaraan manusia.
  5. Al-Quran mengumpulkan ilmu-ilmu yang tidak dapat diliputi oleh manusia dan tidak dapat berkumpul pada seseorang.
  6. Al-Quran mengandung berbagai hujjah dan keterangan untuk menetapkan ketauhidan dan menolak i’tiqad-i’tiqad yang salah
  7. Al-Quran mengandung khabar-khabar orang yang telah lalu dan umat-umat purbakala.
  8. Al-Quran mengandung khabar-khabar yang belum terjadi, kemudian terjadi persis sebagaimana yang dikhabarkan.
  9. Al-Quran menerangkan isi-isi hati yang tidak dapat diketahui melainkan oleh Allah sendiri.
  10. Lafad-lafad al-Quran melengkapi jazal mustarghab dan sahl al-mustaqrab. Dalam pada itu, tidak dipandang sukar jazal-nya dan tidak dipandang mudah sahl-nya.
  11. Pembacaan al-Quran mempunyai khushusiyah dengan kelima penggerak yang tidak didapatkan pada selainnya. Pertama, kelembutan tempat keluarnya. Kedua, keindahan dan kecantikannya. Ketiga, mudah dibaca nadzam-nya dan saling berkaitan satu sama lain.Keempat, enak didengar, dan kelima, pembacanya tidak jemu membacanya dan pendengarnya pun tidak bosan mendengarnya.
  12. Al-Quran dinukilkan dengan lafad-lafad yang diturunkan. Jibril menyampaikannya dengan lafad dan nazham-nya. Rasul pun meneruskan kepada umat persis sebagaimana yang diterima dari Jibril.
  13. Terdapat makna-makna yang berlainan di dalam sesuatu. Yakni di dalam sesuatu surat itu kita mendapatkan berbagai rupa masalah. Kemudian masalah-masalah itu kita temukan di dalam surat-surat lain
  14. Perbedaan ayat-ayatnya, ada yang panjang dan ada yang pendek, tidak mengeluarkan al-Quran dari uslub-nya.
  15. Walaupun kita sering sekali membacanya, namun kita tidak dapat mencapai kepashahannya, karena al-Quran itu di luar tabi’at manusia.
  16. Al-Quran mudah dihapal oleh segala lidah.
  17. Al-Quran itu lebih tinggi dari segala martabat pembicaraan. Martabat pembicaraan terbagi tiga:
    1. Mantsur yang dapat dibuat oleh segenap manusia.
    2. Syi’ir yang hanya dapat disusun oleh sebagaian manusia
    3. Al-Quran melampaui kedua martabat itu. Martabatnya tidak sanggup dicapai oleh golongan a dan b.
    4. Tambahan yang disisipkan atau pengubahan lafad-lafadnya dapat diketahui.
    5. Tidak ada umat yang sanggup menentang al-Quran.
    6. Allah memalingkan manusia dari menentangnya


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Menanggapi masalah definisi mukjizat yang telah dihadirkan para ulama, penulis lebih cenderung pada makna “bukti”, hal ini didasarkan pada bahwa kata “mukjizat” tidak ditemukan dalam al-quran melainkan kata “ayat”. Bukti-bukti inilah yang luar biasa sehingga manusia khusunya masyarakat Arab ketika itu bertekuk lutut atau paling tidak sebenarnya mereka mengakuinya. Diantara bukti-bukti yang luar biasa tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiyah dan muatan hukum yang terkandung didalamnya.
Ditilik dari kebahasaan, Al-Qur`an mempunyai kandungan makna luar biasa baik yang dihasilkan dari pemilihan kata, kalimat dan hubungan antar keduanya, efek fonologi terhadap nada dan irama yang sangat berpengaruh terhadap jiwa penikmatanya atau efek fonologi terhadap makna yang ditimbulkan serta deviasi kalimat yang sarat makna. Ditambah lagi adanya keseimbangan redaksinya serta keseimbangan antara jumlah bilangan katanya. Sehingga tak heran bila Al-Qur`an menempatkan dirinya sebagai seambrek simbul yang sangat kominikatif lagi fenomenal.
Tak kalah serunya Al-Qur`an dilihat dari demensi ilmiyah. Bagaimana Al-Qur`an mendiskripsikan tentang reproduksi manusia, hal ihwal proses penciptaan alam beserta frora dan faunanya tentang awan peredaran matahari dan seterusnya yang semua itu dapat dibuktikan keabsahannya melalui kacamata ilmiyah, sehingga menujukkan bahwa Al-Qur`an sejalan dengan rasio dan akal manusia.
Adanya kisah-kisah misterius dalam Al-Qur`an, menempatkannya sebagai ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai mulai hulu peradaban umat manusia hingga hilirnya. Bahwa peristiwa-peristiwa tersebut sengaja dihadirkan oleh Tuhan agar manusia mampu menjadikannya sebagai ‘ibrah kehidupan. Ia merupakan sebuah metode yang dipilih Tuhan untuk menuangkan nilai yang terkandung didalamnya.
Keistimewaan Al-Qur`an yang paling esensi adalah petunjuk hukum secara kooperatif, komprehensif dan holistik baik yang berkenaan masalah akidah, agama, sosial, pilitik dan ekonomi yang secara umum bertolak pada azaz keadilan dan keseimbangan, baik secara jasmani dan rohani, dunia dan akhirat atau manusia sebagai indifidu, social masyarakat atau dengan Tuhannya. Demikianlah yang dapat penulis paparkan dan akhirnya wallahu ‘alam bish-shawab.
B.     SARAN
Demikianlah dalam hal ini penulis akhiri makalah ini tak lupa mohon maaf kepada semua pihak, kritik dan saran penulis harapkan demi perbaikan penulisan makalah ini selanjutnya






  


DAFTAR PUSTAKA

Amrullah,Fahmi, Al-Qur’an untuk pemula,Jakarta:  CV. Artha Rivera,2008.

Shihab,M.Quraish, Mukjizat al-quran, bandung: Pustaka Mizan, 1999.

Charisma,Moh. Chandiq, Tiga Aspek Kemukjizatan Al-Quran,Surabaya, PT Bina Ilmu:1991.

Lih. M. Syahrur, al-Kitab wa al-Quran (qiraatun mu’sharatu), Syarikah Al-matbuu’ah littauzii’ wa an-nasyr Beirut Libanon cetakan ke VI ,2000.
Sholih, Subhi,Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus ,jakarta : pustaka Firdausi, 2001. Jabbar,Abu bakar, Aysarut Tafasir ,Beirut : Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995. jil. I.

Qatthan, Manna, Mabahits Fi Ulumil Qur’an,Mesir: Mansyuroti asril Hadist,1992.
Shihab, M. Quraish, Mukjizat Al-Quran,Bandung : PT. Mizan Pustaka,2004.
Usman, Ulumul Qur’an,Yogyakarta: Teras, 2009.
Ash-Shiddieqy,Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2009. Ed. Ke-3.


[1] Fahmi Amrullah, Al-Qur’an untuk pemula,(Jakarta:  CV. Artha Rivera,2008),hlm.33
[2] M.Quraish shihab, Mukjizat al-quran, (bandung, pustaka mizan, 1999) hlm 23
[3]Ibid; hlm:23
[4] Ibid; hlm:24
[5]  Moh. Chandiq Charisma, Tiga Aspek Kemukjizatan Al-Quran, (Surabaya, PT Bina Ilmu:1991) hlm:1 
[6] Ibid; hlm:3
[7] Ibid; hlm:4
[8]Lih. M. Syahrur, al-Kitab wa al-Quran (qiraatun mu’sharatun), Syarikah Al-matbuu’ah littauzii’ wa an-nasyr Beirut Libanon cetakan ke VI 2000. hal 179.
[9]] Subhi Sholih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus (jakarta : pustaka Firdausi, 2001) hal. 427.
 
[10]Abu Bakar Jabbar, Aysarut Tafasir (Beirut : Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995) jil. I, hal. 34.
[11]Manna Qatthan, Mabahits Fi Ulumil Qur’an,(Mesir: Mansyuroti asril Hadist,1992), hal.259.
[12] Ibid; :35
[13] Ibid; 36
[14] Shihab mukjizat,,, hlm;36-37
[15] M. Quraish Shihab,Mukjizat Al-Quran,(Bandung : PT. Mizan Pustaka,2004),hal.155-163.
[16] Usman, Ulumul Qur’an,(Yogyakarta: Teras, 2009), Hlm.307-309
[17]Usman, Ulumul Qur’an,(Yogyakarta: Teras, 2009), Hlm.297.
[18]Hasbi ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. (Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2009). Ed. Ke-3. Hlm. 130-133

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar